Oleh: Nie Chunling, praktisi Falun Gong Tiongkok
(Falundafa.or. id) Kebebasan berkeyakinan adalah salah satu hak dasar yang dikenal di seluruh dunia. Konstitusi China, nomor 36, secara jelas menetapkan bahwa rakyat Tiongkok diberikan kebebasan berkeyakinan. Keyakinan seseorang adalah keputusan pribadi. Termasuk hak dalam Konstitusi yang harus dilindungi. Seperti yang kita ketahui, hukum dapat mengendalikan prilaku masyarakat, tetapi tidak dapat memberikan hukuman atas pikiran seseorang. Oleh karena itu, penganiayaan Partai Komunis China (PKC) terhadap Falun Gong sejak awal adalah tidak sah.
Selama hampir delapan tahun penganiayaan, ribuan praktisi Falun Gong telah dianiaya tanpa dapat meminta keadilan atas hak mereka. Tiada keadilan di negeri Tiongkok. Hari ini, hari dimana konferensi HAM internasional diselenggarakan, saya menyerukan kepada masyarakat dunia untuk membantu suami saya, Yang Jianpo, yang telah disiksa dan telah melancarkan aksi mogok makan selama lebih dari 400 hari di Penjara Hebei Jidong. Dia sekarang dalam kondisi kritis dan menggunakan alat-alat penunjang kehidupan.
Saya menyerukan kepada organisasi HAM Internasional dan semua orang baik di dunia, "Tolong bantu selamatkan suami saya dan semua praktisi Falun Gong yang menderita penyiksaan ditangan antek PKC. Mari bergabung dengan kami untuk mengutuk atas pelanggaran HAM berat dan kekejaman yang dilakukan oleh pejabat PKC".
Suami saya Yang Jianpo, 45 tahun, mempunyai usaha sendiri dan tinggal di Distrik Jiningli 11-3-101, Jalan Rongfu, Kota Langfang, Provinsi Hebei. Dia mulai berlatih Falun Dafa pada tahun 1998. Sebelum berlatih, dia suka berkelahi dan pernah ditahan tiga kali karena berkelahi. Setelah berlatih Falun Dafa, ia mengerti tujuan hidup sebenarnya dan sepenuhnya telah berubah. Dia merubah prilakunya dan memulai hidup baru.
Pada tanggal 20 Juli 1999, kelompok Jiang melarang Falun Gong. Kami bingung dan pergi ke Beijing untuk memohon keadilan pada tanggal 5 September 1999. Saya dan suami ditangkap pada tanggal 28 Oktober 1999. Suami saya ditahan selama 53 hari dan kemudian dijatuhi hukuman tiga tahun kerja paksa. Ia dibawa ke Kamp Kerja Paksa Langfang Wanzhuang. Karena menolak untuk melepaskan keyakinannya, dia dibawa ke Kamp Kerja Paksa Gaoyang di Provinsi Hebei.
Di tempat ini, dia disiksa dengan berbagai macam cara. Selama 53 hari di pusat penahanan, dia diborgol dan tidak dapat pergi ke kamar kecil dengan bebas. Dia bahkan disiksa dengan lebih kejam setelah melancarkan aksi mogok makan. Di Kamp Kerja Paksa Wanzhuang, dia dipaksa bekerja keras dan bekerja selama 20 jam sehari. Dia dipukul dengan tongkat kayu. Di Kamp Kerja Paksa Gaoyang, dia diborgol ke sebuah cincin besi di lapangan. Dia menderita teriknya sinar matahari di siang hari dan gigitan nyamuk di malam hari. Para penjaga memasukkan tongkat listrik ke dalam mulutnya untuk menyetrumnya. Mereka tidak melepaskan dirinya setelah dia menjalani hukumannya. Dia melancarkan mogok makan selama 60 hari. Akhirnya, dia dibebaskan, tapi tidak dibebaskan sebelum dia mendekati pintu kematian. Setelah dibebaskan, dia ditangkap dua kali karena alasan sederhana, yaitu memberitahu orang-orang bagaimana dia disiksa dan dianiaya.
Pada malam tanggal 30 Maret 2003, polisi menangkapnya di kota Tangshan, Provinsi Hebei. Dia dibawa ke Markas Polisi Cabang 1 Distrik Fengrun. Polisi menyita hartanya, termasuk uang 6000 yuan. Mereka mengikatnya ke sebuah kursi dan menyetrum dirinya dengan sebuah engkol telepon bertegangan 110 volt berulang kali. Mereka menyiksa dirinya selama tiga hari dan mencegahnya tidur. Setelah tiga hari, dia dibawa ke Pusat Penahanan Distrik Fengrun. Direktur Wu menyuruh polisi untuk memukulnya sampai pantatnya dipenuhi darah. Dia dibebaskan setelah 38 hari, saat hampir meninggal.
Pada sore hari di bulan Februari tahun 2004, polisi dari Markas Polisi Distrik Guangyang Kota Langfang menerobos ke rumah kami dan menangkapnya lagi. Hari itu mereka membawanya ke Kamp Kerja Paksa Tangshan Kaiping. Setelah tiba di kamp kerja paksa, dia melancarkan mogok makan lagi. Berat badannya turun dari 90 kg menjadi 50 kg. Saat dia dibebaskan beratnya hanya 40 kg.Setelah mendengar bahwa anaknya ditangkap, ibu Jianpo mengalami penderitaan mental yang berat. Dia tidak dapat makan ataupun tidur.
Selama beberapa tahun ini, saya dan suami ditangkap berkali-kali. Kedua orang tua kami terus-menerus khawatir dan sangat panik. Ayah saya yang saat itu berumur 74 tahun, seringkali terbangun di malam hari dan menangis. Dia mendapat stroke dan harus tinggal di rumah sakit lebih dari setahun. Kemudian dia meninggal. Orang tua kami yang merawat anak-anak kami.Selama beberapa tahun lalu, saya telah ditahan secara tidak sah selama 18 kali. Setiap kali saya dibebaskan setelah mogok makan dan mengalami masalah kesehatan yang serius. Setiap kali saya harus digotong melalui pintu penjara. Saya sangat lemah dan tidak dapat bekerja.
Keluarga kami yang beranggotakan empat orang harus hidup dengan dukungan orang tua, saudara dan saudari saya. Suatu ketika, polisi menyita lebih dari 20.000 yuan uang kuliah anak kami, yang kami terima dari kerabat dan anggota keluarga.Dari tahun 1999 sampai tahun 2006, polisi setempat menyita uang, harta pribadi dan kendaraan kami senilai lebih dari 80.000 yuan. Sebagai tambahan, pada tanggal 20 Februari 2004, polisi Distrik Guangyang menangkap suami saya di rumah dan mencuri barang-barang berharga senilai lebih dari 30.000 yuan dari toko makanan keluarga kami. Mereka membongkar peti besi kami dan mengambil segala yang dapat mereka raih (saya tidak ingat apa saja yang ada di dalamnya, karena kami tidak di rumah selama beberapa hari). Suami saya dibawa ke sebuah kamp kerja paksa. Toko keluarga kami harus tutup. Kami kehilangan lebih dari 10.000 yuan.
Dengan bantuan dari kerabat, kami mengambil pinjaman dan membeli sebuah mobil van untuk mengangkut barang. Pinjaman itu berjumlah 110.000 yuan. Kami memutuskan untuk menjual rumah kami pada bulan April tahun 2005, supaya kami dapat membayar hutang kami. Tapi kartu identitas kami disita oleh polisi Distrik Guangyang Kota Langfang dan mereka menolak mengembalikannya. Kami harus membuat kartu identitas baru. Tetapi sebelum kami menerima kartu baru dari kantor polisi, Keamanan Publik Guangyang menyitanya. Kami tidak dapat menjual rumah tanpa surat-surat sah dan keluarga kami menderita kerugian lagi.
Pada akhir bulan November 2005, suami saya mengangkut buah-buahan ke Pedalaman Mongolia. Di Pedalaman Mongolia dia ditahan oleh polisi Zhanglanqi Habaga selama tiga hari karena dia mengklarifikasi fakta kepada orang-orang. Ini menghabiskan biaya lebih dari 7000 yuan.
Pada tanggal 5 Februari 2005, suami saya Yang Jianpo sekali lagi ditangkap saat dia melaporkan kepada pejabat lokal mengenai masalah-masalah ekonomi keluarga Wang Shaoqiu. Wang secara tidak sah dipenjara. Suami saya melancarkan mogok makan saat hari pertama dirinya ditahan. Dia memprotes pelanggaran HAM yang dilakukan oleh polisi. Empat bulan kemudian, saat kondisinya sangat lemah, pejabat lokal Langfang secara diam-diam menjatuhkan enam tahun penjara tanpa pengadilan. Dia ditahan di Penjara Tangshan Jidong. Saat itu keluarga kami sedang menjalankan usaha pakaian. Karena suami saya ditangkap, keluarga kami menderita kerugian lebih dari 10.000 yuan.
Pada tanggal 28 Mei 2006, kami menerima sebuah pemberitahuan dari rumah sakit pusat dari Penjara Jidong, Kelompok 4, Distrik Fengnan, Tangshan. Saat itu, Rumah Sakit Kota Langfang, Rumah Sakit Pusat, dan Rumah Sakit Distrik Guangyang memberitahukan beberapa masalah penyakit kritis. Suami saya tidak dapat merawat dirinya sendiri. Di bawah hukum yang ada, tahanan yang sakit kritis harus dibebaskan dari penjara. Tetapi mereka tidak mematuhi hukum dan tetap memenjarakannya.
Pada bulan Juni saat kami mengunjunginya di penjara, dia dibawa keluar oleh tahanan menggunakan sebuah kereta. Matanya tidak fokus dan dia tidak dapat bicara sedikitpun. Dia kurus kering. Tangan dan kakinya dingin dan dia sangat pucat. Dia juga merasa sakit di dada.
Kami sangat khawatir. Orang tuanya tidak dapat tidur pada hari-hari itu. Pada tanggal 30 November 2006, saya pergi bersama keponakan dan ipar laki-laki saya ke Penjara Jidong dan memohon untuk mengunjunginya. Mereka menolaknya, dengan alasan saya tidak mempunyai kartu identitas dan kerabat saya bukan anggota keluarga langsung. Kami menanyakan apa yang sedang dikerjakan oleh suami saya. Li Zhengyun, komisaris politik rumah sakit, mengelak menjawab pertanyaan dan berkata, "Sama." Pejabat lainnya mencoba menghindari kami dan mereka bahkan memanggil polisi lokal untuk mengusir kami pergi.
Saya pergi bersama anak-anak ke Rumah Sakit Jidong lebih dari sepuluh kali dan meminta pembebasan suami saya. Mereka tidak membebaskan ataupun membolehkan kami melihatnya. Kapan saja kami menanyakan kondisinya, mereka menjawab, "Sangat baik," dan "Kami akan memberitahukan kepadamu jika ada yang tidak beres." Sebelum tahun baru 2007, polisi menyerbu rumah kami dan meminta saya menanda-tangani beberapa dokumen untuk "pembebasan bersyarat untuk perawatan medis." Mungkin mereka berpikir dia hampir meninggal. Mereka berkata akan membawanya dalam beberapa hari. Tetapi, dia tidak dibebaskan.
Setelah tahun baru Imlek, tanggal 27 Februari, saya membawa dua anak saya dan pergi ke Penjara Jidong dan memohon berkunjung, namun mereka menolak. Saya bertanya mengapa mereka tidak membawanya pulang seperti janji semula. Hao Baoxin, kepala Kelompok 4 berkata bahwa Yang Jianpo mengalami kondisi yang sangat kritis sebelum tahun baru. Tetapi kemudian para dokter merawatnya dan dia baik-baik saja. Mereka meminta saya pulang. Sebenarnya, dia berbohong. Kami mendengar bahwa suami saya dibantu dengan alat-alat penunjang kehidupan. Dia tidak dapat hidup jika pipa oksigen dicabut. Tetapi mereka tidak perduli.
Suami saya Yang Jianpo bukan seorang penjahat. Mengatakan yang sebenarnya bukanlah sebuah kejahatan. Saya mengungkapkan kejahatan yang dilakukan oleh polisi Langfang, kepada semua organisasi dan kelompok HAM internasional, dan kepada orang-orang di dunia. Saya menyerukan kepada semua orang di dunia untuk membantu suami saya dan semua praktisi Falun Dafa yang secara tidak sah dipenjara supaya mereka dapat dibebaskan. Kami sangat mengkhawatirkan kesehatan mereka, terutama sejak kami mengetahui bahwa antek PKC telah mengambil dan menjual organ tubuh dari praktisi yang masih hidup.
Konferensi HAM internasional sekarang sedang diselenggarakan. Saya berharap hal ini akan dapat melindungi HAM dan memperbaiki situasi ini. Dengan mengekspos fakta-fakta penganiayaan PKC terhadap praktisi Falun Gong di Tiongkok, kami berharap seluruh dunia akan menyadari betapa jahatnya PKC, mengutuk perbuatan jahat PKC, menegakkan keadilan, dan menyelamatkan para praktisi yang sedang dianiaya oleh antek PKC, termasuk suami saya Yang Jianpo, yang telah melancarkan mogok makan selama lebih dari 400 hari dan hampir meninggal.
Saya berharap semua orang baik di dunia akan bersatu dan menghentikan perbuatan jahat PKC. Tolong, akhiri penganiayaan terhadap orang-orang yang percaya pada Zhen-Shan-Ren (Sejati-Baik- Sabar). Penganiayaan di Tiongkok telah berlangsung hampir delapan tahun dan harus diakhiri.
