Thursday, May 3, 2007

Cina tekan para pembangkang


Organisasi hak asasi manusia Amnesty International mengatakan Cina menggunakan Olimpiade 2008 sebagai katalisator untuk menekan pembangkangan demi terciptanya stabilitas. Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada 30 April 2007, Amnesti mengatakan Cina gagal memperbaiki catatan hak asasi manusianya seperti yang sebelumnya dijanjikan.


Amnesty mengutip seruan menteri kepolisian Cina yang meminta tindakan tegas ditimpakan kepada kekuatan yang mengancam stabilitas negara. Laporan itu mengakui bahwa beberapa kemajuan dicapai dengan telah dilakukannya reformasi atas prosedur hukuman mati agar tidak lagi sembarangan dan pemberian kebebasan yang lebih besar bagi wartawan asing yang sedang meliput Olimpiade.


Tetapi juga ditekankan bahwa pemerintah masih terus melakukan penahanan aktivis hak asasi manusia tanpa lewat pengadilan dan memperketat kontrol atas media domestik dan internet.


Pemerintah Cina belum memberikan komentarnya atas laporan Amnesty International ini. Dimasa lalu mereka sering memandang sebelah mata laporan Amnesty International dan menekankan bahwa mereka telah memenuhi komitmen hak asasi manusia mereka yang menjadi salah satu persyaratan terpilihnya mereka menjadi tuan rumah Olimpiade 2008.

Seruan Kepada World Psychiatric Association:


Perlunya Menyelamatkan Banyak Jiwa di China

Pada 14 April 2007, Abraham L. Halpern, MD, Profesor Emeritus (Psikiatri) dari New York Medical College menulis surat kepada Kgosi Letlape, MD, Presiden The World Medical Association, Pilaneberg, Afrika Selatan. Beliau mendesak supaya pengurus World Psychiatric Association segera membahas masalah pengambilan organ praktisi Falun Gong yang masih hidup di China, dan memulai tindakan untuk menyelamatkan banyak jiwa. Berikut adalah isi surat tersebut.14 April 2007

Kgosi Letlape, MD
Presiden Asosiasi Kedokteran Dunia
World Medical AssociationPilaneberg, Afrika Selatan


Perihal: Kejahatan terhadap Kemanusiaan di RRC


Dengan hormat,
Saya yakin bahwa Anda akan ingat surat yang telah saya kirimkan kepada Anda pada tanggal 27 September 2006 dimana mengusulkan The World Medical Association meminta Republik Rakyat China membolehkan tim investigasi World Psychiatric Association (WPA) untuk menyelidiki dugaan yang ekstrem serius dimana para dokter terlibat didalam pembunuhan terhadap praktisi Falun Gong dan mengambil berbagai macam organ tubuh untuk dijual kepada para pasien yang putus asa karena masuk dalam daftar tunggu yang lama untuk transplantasi organ. Saya sangat merekomendasikan he Chinese Medical Association (Asosiasi Kedokteran China) dikeluarkan dari Asosiasi Kedokteran Dunia (WMA) bila tidak mendapatkan izin untuk penyelidikan yang sangat mendesak ini.


Laporan demi laporan di seluruh dunia menyatakan bahwa program pengambilan organ di China masih berjalan atau dipertahankan tanpa ada upaya untuk menghentikannya, sekalipun sudah ada bantahan dari pemerintah China dan pengumuman sebuah kebijakan hukum yang akan berjalan efektif pada bulan Juli tahun lalu untuk mengatur transpalantasi organ di rumah sakit-rumah sakit.


Saya menjadi sangat perhatian ketika Dr. Chen Zhonghua, Wakil Ketua Direktur Komite Asosiasi Kedokteran China, Divisi Transplantasi Organ, mungkin terlibat secara terang-terangan melanggar kode etik kedokteran di semua negara di dunia, khususnya yang telah diadopsi Asosiasi Kedokteran Dunia pada Oktober 1975, dan saya percaya, tidak melemahkan oleh perbaikan apapun setelahnya: "Seorang dokter sepenuhnya memiliki independensi klinis dalam memutuskan atas perawatan seseorang bagi tanggung jawab medisnya. Peranan fundamental dokter adalah mengurangi penderitaan sesamanya, dan tidak ada motif - apakah perseorangan, bersama atau politik - harus mengutamakan tujuan yang lebih tinggi ini."

Ini dinyatakan di website [http://www.clearwisdom.net/emh/articles/2006/9/12/77940p.html] dimana Dr. Chen Zhonghua sebagai kepala Institut dan Riset Transplantasi Organ di Sekolah Kedokteran Tongii milik Universitas Sains dan Teknologi Huazhong. Institut ini dilaporkan telah melakukan lebih dari 1.000 transplantasi ginjal pada Februari 2005. Dr. Chen Zhonghua dikatakan telah mengakui melalui percakapan telepon bahwa beberapa organ berasal dari praktisi Falun Gong yang masih hidup. Pendapat saya, kemungkinan keterlibatan dokter ini, seorang anggota senior Asosiasi Kedokteran China, membuat semuanya lebih mendesak dimana WMA (World Medical Association) harus segera mengambil tindakan.


Menunggu sampai protes dapat digalang pada Olimpiade 2008 atau sampai upaya-upaya para diplomat tercapai, tidak akan menyelamatkan jiwa banyak orang yang tidak bersalah selama bulan-bulan mendatang. Saya yakin bahwa hanya aksi yang dilakukan oleh The World Medical Association dapat mengakhiri kejahatan terhadap kemanusiaan ini. Dalam surat saya tahun lalu, saya menyebutkan beberapa langkah rekomendasi, di atas merupakan salah satu jaminan yang cukup efektif pada masa lalu pada negara Uni Soviet dan bahkan di China sendiri yang berhubungan dengan penghukuman yang salah, dalam batas keamanan maksimum institusi forensik, dari orang-orang yang tidak sakit mental yang tidak diinginkan di Uni Soviet dan para pengikut Falun Gong di China.


Dengan penuh rasa hormat, saya meminta Anda menyerukan sebuah pertemuan penting dari pengurus World Psychiatric Association untuk membahas masalah ini dengan segera dan bertindak untuk menyelamatkan banyak jiwa.


Hormat kami,
Abraham L. Halpern, MD, FACP
Profesor Emeritus
New York Medical College